Catatan Yang Hilang


Saat aku mau memulai untuk menulis kembali, buku catatanku hilang. Inilah kebiasaanku, melupakan dan menghilangkan apa yang menjadi harta sejarahku. Tidak masalah jika aku melupakan teman dan sahabat terdekatku, tidak masalah jika aku lupa akan keluargaku atau bahkan sesekali melupakan tuhan, itu bukan masalah bagiku. karena ini memang menjadi kekuranganku bahwa aku adalah orang yang gampang ingat dan gampang juga lupa.

Yang menjadi  masalah buatku ialah aku terancam tidak mengenal mereka lagi lebih dalam. Apa yang teman-teman lakukan terhadapku dulu, ilmu yang ku dapat dari mereka, baik buruknya mereka, kasih sayang ibuku dari dulu sampai sekarang, ketika Tuhan memberikanku jawaban dan alam sebagai petunjuknya dan segala momen hidupku, ada di catatan yang hilang itu.

Seiring berjalannya waktu, aku akan melupakan segala momen kebahagiaan dan kesedihan yang telah aku lewati selama ini dan itu sakit. Karena aku yang sekarang masih sadar dan waras, sudah mengetahui pedihnya melupakan sebelum waktu berjalan.

“Kau bodoh!!, goblok !!, menghilangkan harta berhargamu sendiri.”

Iyaah… memang aku bodoh, goblok, bajingan, anjing, ucapkanlah semua sumpah serapahmu padaku karena itu pantas bagi orang sepertiku;
Orang yang selalu menulis kebahagiannya,
Orang yang selalu menulis kesedihannya,
Menulis tentang tuhannya,
Menulis segala hal karena dia sadar dia seorang pelupa, dilupakan dan melupakan, dan juga menghilangkan harta penjaga ingatannya sendiri.

Karena itu memang aku.

Apakah kau tahu?
Yang paling menyakitiku hari ini dan hari esok adalah dirimu dan catatan yang hilang itu.


1 comment:

Adit the series 1

Dalam sebuah perjalaan hidup ada rentetan untaian yang dinamis, dalam kedinamisannya ada yang menakdirkan bahwa aku harus ada di dalam alam...

Adbox