Lembayung senja memanggil sang hati
Pada manusia yang berdiam diri
Tapi sebenarnya dalam jiwanya itu menari-nari
Dalam keindahan detik tenggeamnya matahari
Dalam keindahannya itu dia berkata:
Aku cinta padamu bukan sebagai pemuda mesum
Yang berselimut nan berlindung pada kata itu.
Tapi aku manusia yang gagah berani dan sabar
Pada waktu yang menunggu.
Asal kau tahu, aku akan siapkan kerikil untuk
Meluluhkan burung untamu itu.
Kerikil itu kecil tapi isinya bumi
Dan burung untamu itu adalah langit yang haru di taati.
Dalam kehidupanku hanya kau yang terlukis
Yang kuasnya itu menggoreskan sayatan separuhJiwa padaku,
Yang minta untuk disempurnakan
Sungguh, kamu adalah alasan untukku
Maka akan ku beri apa yang ia minta
Agar aku bisa tersenyumnan bersamamu
Dengan kasih sayang
Menari lincah dan terdiam gundah
bersamamu
Dengan keindahan yang tak terucapkan
Kenyang dan lapar bersamamu
Menghidupi cita manis akan kehidupan
Terlelap dan tergugah bersamamu
Memastikan kamu masih dalam pelukan
Sebenarnya ia masih ingin melanjutkan perkataannya itu,
Tapi alam semesta di bungkus oleh kayu
Akan tak terucap, dan matahari sampailah
Pada tenggelamnya…







No comments:
Post a Comment