Pucaknya kebahagian itu ialah inti kebahagian
tersembunyi, yang singanya di dalam ladang, dicabutnya ia maka keluarlah jati
dirinya. Elus lah penggungnya itu sebelum dia kembali pada malam hari nanti.
Bukaknkah itu akan menjinakanya?. Karna apa yang terlihat akan terlelap dan apa
yang di tanam akan di petik.
Apa yang dilakukanya itu tidak bernyawa bila hanya
untuk di pandang. Saat itu tidak ada ruh dan jiwa yang menyertai, karea ruh dan
jiwa ialah keikhlasan.
Semua kata-kata itu hilang satu persatu oleh pasir
yang basah, maka berikanlah kata-kata itu maka pasirpun akan mengering dengan
sendirinya. Bukankah kata-kata itu masih ada? Ya, masih ada terngiang-ngiang
dikepalanya dan berharap itu berkelana sampai kepada dia.
Karena itulah kebutuhannya, meski ia tak terima karena
ingin lebih, maka tunggulah saat fajar pagi menyinari karena ia berada pada
malam berkabut sepi. Sungguh bila itu bisa ditarik lebih cepat, tidak ada
kebaikan pun tidak ada keburukan. Bukankah lautan itu hanya baik? Tidak, tidak
pula hanya jahat.
Bijaklah ketika mencari dan berdiam diri, cahaya putih
yang redup mulai menyertai, Menunggu untuk menghilangkan yang redupnya itu.
Sehingga hidayah-Nya sampai kepada jiwa. Mengaunglah yang keras maka langit dan
bumi akan bergetar.
Cinta itu ada pada setiap jiwa dalam tubuh yang mati
apabila tidak ada jiwanya itu. Bila tubuhnya saja sugguh itu hanya pemuda
penunggang nafsu yang meneriakan cinta. Yang setelahnya itu datang tikus dan
itu adalah keledai. Karena tubuh manusia itu adalah babi yang memakai jubah ataupun
yang tidak.
Bukankah awal yang dibawanya itu baik? Ya, tapi
tertutupi oleh jubah babi hitam itu. Carilah celah untuk melihat yang awal,
karena itu sebaik-baiknya melihat.
Lihatlah
udaranya, perkataanya, jangan terperangkap surga yang isinya penuh duri. Bila
tidak bisa, bukankah setiap jiwa memiliki mata singa?.







No comments:
Post a Comment